Memasuki Februari 2020, properti di Batam turun harga. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), harga properti di Batam diperkirakan justru mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,47 persen.
 
Penurunan tersebut terjadi untuk tipe rumah kecil, yang harganya turun 3,02 persen. Tipe rumah menengah yang turun 3,16 persen, dan tipe rumah besar yang turun 1,27 persen.
 
Penyebab menurunnya harga properti terjadi karena Batam hingga saat ini masih dalam tahap pemulihan ekonomi.
 
Sehingga berdampak pada lemahnya daya beli masyarakat. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, menilai saat ini merupakan momen paling tepat untuk meningkatkan promosi pemasaran property, termasuk, untuk generasi milenial di Batam.
 
“Target pengembang saat ini adalah bagaimana cara meyakinkan generasi milenial agar segera membeli rumah,” kata Achyar, Rabu (26/2/2020).
 
Batam termasuk kota yang mengalami relaksasi pertumbuhan harga properti. Sedangkan kota-kota besar lainnya seperti Medan, properti tumbuh hingga 7,30 persen.
 
Begitu juga dengan Palembang yang tumbuh hingga 3,31 persen. Achyar menilai, sudah saatnya untuk membeli properti, karena penurunan harga ini sangat jarang terjadi.
 
“Bagi mereka, memang properti menjadi prioritas terakhir. Mereka lebih suka mengontrak rumah karena alasan mobilitas. Padahal, jika dilihat dari penghasilan, seharusnya cukup untuk menabung dan berinvestasi,” katanya.
 
Untuk mendorong agar banyak yang mau membeli rumah, harus didukung dengan sejumlah kebijakan, karena selama ini, masih banyak hambatan yang ditemukan sehingga penjualan properti merosot.
 
Berdasarkan data yang dihimpun BI, faktor yang menghambat pertumbuhan properti antara lain suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Berdasarkan data laporan bank umum, rata-rata suku bunga KPR pada triwulan IV-2019 sebesar 9,12 persen lebih rendah dibandingkan 9,34 persen pada triwulan III-2019.
 
Faktor lain yang jadi penghambat antara lain perizinan atau birokasi dalam pengembangan lahan, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR di perbankan, dan permasalahan pajak.
 
Achyar mengatakan, salah satu penghambat penjualan properti di Kepri adalah tingginya cicilan rumah. Biasanya, cicilan yang besar mengakibatkan gagal bayar sehingga rumah disita.
 
Apalagi di Kepri, khususnya Batam, dimana harga rumah terlalu cepat meningkat. Achyar mengatakan, salah satu solusinya adalah perbankan berani memberikan tenor lebih panjang untuk pelunasan KPR kepada para pembeli rumah. Tenor pelunasan KPR bahkan ada yang mencapai 20 tahun.
 
“Karena harga rumah jauh lebih cepat naik dibanding gaji,” katanya.
 
Selain itu, Achyar melihat bahwa generasi milenial tertarik untuk tinggal di apartemen. Di Batam, trennya mulai bergerak ke arah tersebut.
 
Di kota industri ini, ada 16 proyek apartemen yang tengah berjalan. Contohnya, proyek
Pollux Habibie, Citra Plaza Nagoya, Oxley, Sinarmas dan lain-lain.
 
Apartemen cukup diminati, begitu juga dengan rumah yang mendapat fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau rumah murah. Bagi milenial berkantong pas-pasan, rumah murah memang menjadi pilihan utama.
 
“Tahun ini, secara nasional kuotanya 102 ribu saja dibanding tahun lalu yang dapat 160 ribu,” jelasnya.
 
Rumah murah menjadi pilihan menarik karena skema pembeliannya dianggap kompetitif dan bersahabat.
 
Keuntungan membeli rumah murah antara lain suku bunga rendah lima persen tetap per tahun, tenor panjang selama 20 tahun, angsuran terjangkau, uang muka ringan, bebas premi asuransi dan bebas pajak pertambahan nilai (PPN).
 
Untuk 2020, harga murah sudah ditetapkan sebesar Rp 156,5 juta, naik dari Rp 146 juta pada 2019. Achyar menyebut penurunan kuota rumah FLPP menjadi perhatian serius dari REI Batam. Kebutuhan rumah di Batam masih sangat tinggi.
 
Berdasarkan data BPS Batam, jumlah penduduk Batam pada 2019 sudah mencapai 1.421.961 orang atau tumbuh 9 persen dari 2019. 40,76 persen di antaranya adalah generasi milenial berusia 20 hingga 39 tahun atau dalam angka mencapai 579.591 orang.
 
Kebutuhan terhadap rumah akan semakin tinggi mengingat pertumbuhan penduduk Batam yang terus bertambah dalam rentang 5 hingga 9 persen dalam lima tahun
terakhir ini.
 
Menurut Achyar, idealnya kuota rumah murah terus bertambah sebanyak 2.500 per tahun. Tapi sayangnya, angan-angan tersebut sulit untuk terealisasi.
 
“2019, pemerintah kasih kuota 160 ribu. Dan tahun depan diintip dari APBN, maka kuota hanya 100 ribu. Nah ini yang saya bilang, masyarakat harus disadarkan bahwa sekarang fasilitas untuk mendapatkan rumah layak huni terus berkurang,” ucapnya.
 
Di Batam, target pembangunan rumah FLPP tahun ini diperkirakan akan berkurang.
Padahal tiga tahun terakhir ini, kuotanya terus meningkat. Pada tahun 2017 ada 800 unit, tahun 2018 ada 1200 unit, ta hun 2019 ada 1500 unit.
 
Sementara di 2020, Achyar belum mendapat jumlah pastinya.
 
“Untuk 2019 lalu, realisasi sudah 600,” katanya.
 
Berdasarkan data Kementerian PUPR, realisasi rumah FLPP di Kepri mencapai 970 unit dengan total kredit sebesar Rp 93,8 miliar.
 
Mendengar pengurangan kuota tersebut, bukan hanya target yang akan turun, tapi juga jumlah pengembang yang membangun rumah FLPP.
 
“Di daftar kita ada 18 dari 90 pengembang di Batam yang bangun rumah FLPP di Tanjunguncang, Marina, Piayu dan Nongsa,” ungkapnya.
(Sumber : batampos.co.id)
 

0 Komentar